|
|
comments (0)
|
Yes, Anda tidak salah baca. Jadi tukang parkir pun harus ada strategi! Pagi itu saya pergi ke apotik dengan sepeda motor untuk membeli obat, dan selama ini setiap kali ke sana saya tidak pernah melihat ada tukang parkir. Jujur saja, hal ini saya syukuri. Well, secara umum tukang parkir memang punya "brand image" yang kurang begitu bagus. Kalau Anda tidak setuju dengan saya, hanya ada dua kemungkinan. Satu, Anda termasuk tipe yang sangat berhati mulia, dan membayar uang parkir adalah hal yang sangat lumrah dan wajar, meskipun kalau Anda hanya singgah ke suatu tempat tidak sampai satu menit. Hitung-hitung, amal dan sedekah lah, kata Anda. Toh mereka (para tukang parkir) juga butuh makan dan menghidupi anak istri. Kemungkinan kedua, you're simply a big fat liar! (excuse my French). Dari hasil pengamatan dan pendengaran saya pribadi sih (hasil curhat teman, saudara, customer dll), tukang parkir kurang di-welcome.
Ok, sebelum terlanjur ngalur ngidul ngelantur kemana-mana, back to topic. Mengapa saya bilang bahwa profesi tukang parkir juga butuh strategi? Pagi itu di apotik tersebut ada seorang Bapak lengkap dengan seragam parkirnya sedang "on duty" bertugas mengatur "lalu lintas" di halaman apotik. Dalam hati saya berkata: "Wah...sejak kapan nih?" Tapi waktu selesai membeli obat, saya perhatikan ternyata Bapak tukang parkir ini sudah cukup berumur, perkiraan kasar saya sih beliau sudah lebih dari 50 tahun. So, waktu mau keluar dari area parkir saya sengaja mendekati beliau (dengan persiapan untuk membayar, sumpah!) sambil nanya: "Parkir, Pak?". Dan beliau menjawab: "Enggak, untuk mobil saja.." Mendengar jawaban yang "melegakan" tersebut, saya pun pergi. Tapi sesampai di rumah, hal ini masih nyangkut di pikiran disertai flashback kejadian tadi. Setelah saya ingat-ingat, motor-motor di halaman apotik memang dibiarkan begitu saja tanpa diatur dan dirapikan. Dan beliau memang cuma hanya "beraksi" ketika ada mobil yang mau masuk atau keluar dari halaman apotik. So, kesimpulan dan hasil analisa tingkat tinggi saya: Bapak tersebut bekerja cerdik! Untuk usia beliau, jelas tidak mudah dan bisa membahayakan malah kalau sepanjang hari harus menggeser, mendorong, memindahkan motor-motor. Tapi kalau mobil, tinggal dengan sound effect (bersuara, Red) dan sedikit gerakan tangan, beres! Dengan tingkat pendapatan dua kali lipat lagi. Why get hurt, right?
And that my friend, is what I'm talking about.
- SW -
|
|
comments (0)
|
Januari lalu saya berkesempatan mengunjungi Bali untuk kedua kalinya setelah lebih dari sepuluh tahun. Terakhir saya ke sana untuk merayakan pergantian millennium dari Desember 1999 sampai Januari 2000. Bencana Y2K yang digembar-gemborkan waktu itu memang tidak terjadi. Waktu itu ketika jam countdown besar di dekat Pantai Kuta berdentang ke detik pertama tahun 2000, saya sedang berada di pantai bersama teman-teman dan ribuan massa merayakan pergantian tahun yang baru. Waktu itu benar-benar luar biasa meriah, mulai dari ketika kami berjalan kaki menuju pantai dari hotel, dimana sepanjang jalan orang-orang berkumpul di dalam café maupun di tepi jalan sambil meniupkan terompet sekeras-kerasnya. Diantara kerumunan massa ini pastinya adalah para warga negara asing (baca: bule) yang terlihat sangat menikmati suasana, minum bir, bernyanyi dan menari. Benar-benar ‘la dolce vita’ (the sweet life) untuk mereka. Dan saya berani bilang, inilah Bali at its best. Bali yang menarik begitu banyak wisatawan dari seluruh dunia.
Memori masa lalu itu tidak luput dari pikiran saya dalam kunjungan kali ini. Dan ketika saya mengunjungi monumen Bom Bali di Legian, saya tidak bisa menahan diri untuk merinding. Di dekat dinding, terletak papan kecil bertuliskan: “Happy Birthday, Joey”. Ratusan nama korban selain Joey (termasuk dari Indonesia sendiri) yang tertulis di dinding benar-benar membuat saya berpikir, kita bisa “check out” kapan dan dimana saja tanpa bisa kita ketahui dan kendalikan. Tapi yang membuat saya sungguh menyayangkan adalah, kejadian ini merupakan hasil inisiatif dan aksi manusia. Bukan karena bencana alam yang diluar kendali manusia. Saya pikir, membunuh atas nama apapun adalah tidak benar, dan hanya merupakan alasan untuk pelampiasan ego. Itulah yang dilakukan mereka yang kita kutuk. Mengapa kita melakukan hal yang sama? Di negeri sendiri? Apakah aksi ini membawa dampak positif untuk bangsa kita? Ironisnya, kejadian ini terjadi tidak hanya sekali, tapi dua kali. Dan yang lebih menyedihkan lagi, aksi bom seperti ini seringnya terjadi di negara kita, tidak di negara tetangga kita seperti Malaysia dan Singapura yang sangat agresif mempromosikan parawisata.
Hari ini, Bali sudah kembali ramai. Info dari sedikit riset yang saya lakukan, sekarang ini kunjungan wisman ke Bali bahkan lebih tinggi jumlahnya dibanding dulu. Saya lihat sendiri banyaknya bis-bis pariwisata yang mengangkut wisman dari RRC, yang sekarang ini tercatat sebagai penyumbang jumlah wisman terbesar kedua setelah Australia, melewati Jepang. Majunya ekonomi negara tersebut pastinya juga memegang peranan. Bule-bule dari manca negara pun banyak yang berkeliaran di daerah Jimbaran naik motor. Ketika di pesawat menuju Bali, saya melihat seorang bule yang sedang membaca novel ‘Eat, Pray, Love’ yang ber-setting di Bali dan difilmkan dengan aktris Julia Roberts. Film ini pastinya menjadi marketing ampuh untuk Bali. Dalam hati saya berpikir, Bali sudah kembali ke masa kejayaannya. Tapi akankah kejadian kelam masa lalu berulang suatu hari nanti? Berapa kali Bali harus membuktikan diri kalau sang Pulau Dewata bisa come back meskipun diporak-porandakan manusia? Saya berdoa dalam hati: “jangan lagi…semoga tidak…semoga”. Indonesia, sadarlah. Bangkitlah, dan bersatulah. Bukan saya, kamu, atau mereka. Tapi kita. May we all live in peace and harmony. Amen.
- SW -
|
|
comments (0)
|
Jawaban pertanyaan di atas sangat relatif dan tergantung. Kalau bagi BUMN, mungkin merupakan berkat (kecuali mungkin bagi orang-orang yang “terganggu”;). Sebaliknya bagi PLN, kalau menurut saya sih kutukan. Mungkin ini hanya perasaan saya, tapi sejak beliau tidak menjadi CEO PLN, tradisi mati lampu kok mulai dilestarikan lagi. Sekali lagi, ini mungkin hanya perasaan saya, yang mungkin bukan fakta yang dilandasi data dan statistik. Saya tidak mencatat seberapa sering mati lampu terjadi dan durasinya berapa lama. Soalnya terasa seperti memancing di air keruh. Yang jelas, hari terakhir tahun 2011, yakni tanggal 31 Desember dihiasi dengan mati lampu. Dan seakan dalam rangka mempertahankan konsistensi, hari pertama di tahun yang baru, 1 Januari 2012 pun mati lampu! Dan selama dua minggu pertama Januari, prestasi ini dipertahankan. Saya jadi ingat kata Pak Purdi Chandra, malas itu juga perlu konsistensi. Masa hari ini malas, besok rajin? Itu namanya tidak konsisten. (Maaf, sama sekali tidak bermaksud mengatakan kalau PLN malas). Mungkin kasus PLN ini kurang lebih seperti itu. Mungkin…
Saya membaca tentang Pak Dahlan diangkat menjadi CEO PLN ketika masih tinggal di Sydney. (Selama di sana hampir 1,5 tahun, tidak ada yang namanya mati lampu. Zero, nada, null.) Dalam hati saya ikut senang dan ada secercah harapan, mudah-mudahan beliau bisa melakukan perubahan di PLN. Kata teman sih, sejak beliau menjabat kasus mati lampu sudah agak mendingan. Parahnya kondisi listrik di Pontianak di era sebelum beliau sudah rahasia umum yang melegenda. Dan sejak saya kembali ke Pontianak bulan Februari 2011, mati lampu memang tidak separah dulu. Tapi belakangan ini sejak sering membaca sepak terjang beliau di Kementerian BUMN, nostlagia masa-masa gelap Pontianak kembali terjadi. Saya hampir yakin 100% kalau tulisan opini seperti ini tidak disimpan di database koran ini. Karena kalau disimpan semua dari dulu sampai sekarang, mungkin sudah setebal ensiklopedia. Pak Dahlan mungkin tidak akan membaca tulisan ini atau tulisan-tulisan lain yang sejenis, tapi saya berdoa semoga dengan satu atau cara lain hal ini bisa diketahui beliau. Dan mungkin saja beliau memang sudah tahu. Meskipun bukan nahkoda langsung, toh PLN masih di bawah beliau.
Demi kelancaran usaha, pemilik usaha memakai genset yang tentunya perlu BBM. Untuk membeli BBM kebutuhan genset memakai jerigen, dipersulit bahkan dilarang. Dan meskipun cukup sering memakai genset, tagihan sama saja (kasus klasik). Otomatis operational cost meningkat. Mungkin karena belum ada (atau belum banyak) UKM yang bangkrut karena hal ini, jadi tidak ada perubahan. Intinya, apa sih masalahnya PLN? Mesin-mesin tua? Bahan bakar? Tali layangan? Masa begitu ditinggal Pak Dahlan langsung kambuh? Sampai kapantrademark ini akan dipertahankan? Apakah terlalu berharap PLN akan menjadi lebih baik di sisa tahun ini dan seterusnya? Mudah-mudahan tidak...
- SW -
|
|
comments (0)
|
Baru-baru ini saya membaca sebuah artikel berjudul Chinese New Year Boost For NSW Tourism atau Dorongan Tahun Baru Cina untuk pariwisata NSW (New South Wales, salah satu negara bagian di Australia).
Beberapa informasi dari artikel tersebut yang dikutip dari pernyataan Menteri Pariwisata NSW Jodi McKay, antara lain:
Kesimpulan yang dapat kita tarik dari artikel tersebut adalah, perayaan seperti Tahun Baru Cina bisa menjadi daya tarik pariwisata yang cukup besar dan bisa memberikan sumbangan ekonomi yang cukup signifikan. Pemerintah Indonesia pada umumnya, dan Kal-Bar pada khususnya, perlu mempelajari dan mencontoh pengelolaan pariwisata secara profesional dengan memanfaatkan potensi-potensi yang ada di daerah. Tentunya hal ini tidak terbatas pada perayaan Tahun Baru Cina saja, tetapi juga perayaan-perayaan adat lain dan potensi-potensi lain.
Program pemerintah seperti Visit Kalbar 2010 perlu terus dilestarikan dan ditingkatkan lagi. Adanya perayaan-perayaan seperti tentunya sangat mendukung agenda Visit KalBar. Tetapi yang paling penting menurut saya adalah program perayaan seperti Tahun Baru Cina dijadikan agenda resmi pemerintah yang tidak bersifat eksklusif, dan perlu didukung oleh segenap masyarakat KalBar untuk kepentingan masyarakat KalBar. Dan tentu saja faktor pendukung lain seperti infrastruktur dan keamanan juga sangat penting. Pertanyaannya sekarang, apakah kita serius mengembangkan pariwisata KalBar dan bisa memanfaatkan potensi yang ada? Apakah kita memiliki visi KalBar sebagai suatu daerah pariwisata yang maju?
- SW -
|
|
comments (0)
|
Tony Robbins once said: "We are all just looking for the emotions".
I tend to agree with him on that. No, really. Think about it. All this time we're driving ourselves for money, a dream house, cars, fancy toys, a dream partner, the last edition of a state of the art home theatre system, etc. And we think getting all those things are what we actually want and need. It's the physical thing that matters. Is it really?
Picture this, when we were kids, and our parents bought us toys of our dreams, those that we thought about day and night, we suddenly felt we're on top of the world. Or the recent cool trendsetting mobile phone you're considering to buy, and you were thinking: "If only I can get that phone, then it will be great". So you successfully make the money and buy the dream phone. And yes, you feel great. But for how long? A week? A month? And then what? All of a sudden "the greatness" of the dream phone is not that great anymore. The "dream phone" has become "just a phone". Ever felt that way? I know I have.
I can only guess how Bill Gates felt when he made his first billion dollar. Now? I'm not sure he felt the same way he once did (although he personally admit that the financial was never his driving force).
My point is, whatever the things may be, we are after them ONLY to fulfill our emotional needs. We want to have all those things because having them will make us happy, respected, fulfilled or just looked cool. It's not the physical that we actually after, it's the emotional "side-effects", if you don't mind me saying. Of course there's nothing wrong with that (to a certain extent). After all we are emotional beings, aren't we?