|
|
Jawaban pertanyaan di atas sangat relatif dan tergantung. Kalau bagi BUMN, mungkin merupakan berkat (kecuali mungkin bagi orang-orang yang “terganggu”;). Sebaliknya bagi PLN, kalau menurut saya sih kutukan. Mungkin ini hanya perasaan saya, tapi sejak beliau tidak menjadi CEO PLN, tradisi mati lampu kok mulai dilestarikan lagi. Sekali lagi, ini mungkin hanya perasaan saya, yang mungkin bukan fakta yang dilandasi data dan statistik. Saya tidak mencatat seberapa sering mati lampu terjadi dan durasinya berapa lama. Soalnya terasa seperti memancing di air keruh. Yang jelas, hari terakhir tahun 2011, yakni tanggal 31 Desember dihiasi dengan mati lampu. Dan seakan dalam rangka mempertahankan konsistensi, hari pertama di tahun yang baru, 1 Januari 2012 pun mati lampu! Dan selama dua minggu pertama Januari, prestasi ini dipertahankan. Saya jadi ingat kata Pak Purdi Chandra, malas itu juga perlu konsistensi. Masa hari ini malas, besok rajin? Itu namanya tidak konsisten. (Maaf, sama sekali tidak bermaksud mengatakan kalau PLN malas). Mungkin kasus PLN ini kurang lebih seperti itu. Mungkin…
Saya membaca tentang Pak Dahlan diangkat menjadi CEO PLN ketika masih tinggal di Sydney. (Selama di sana hampir 1,5 tahun, tidak ada yang namanya mati lampu. Zero, nada, null.) Dalam hati saya ikut senang dan ada secercah harapan, mudah-mudahan beliau bisa melakukan perubahan di PLN. Kata teman sih, sejak beliau menjabat kasus mati lampu sudah agak mendingan. Parahnya kondisi listrik di Pontianak di era sebelum beliau sudah rahasia umum yang melegenda. Dan sejak saya kembali ke Pontianak bulan Februari 2011, mati lampu memang tidak separah dulu. Tapi belakangan ini sejak sering membaca sepak terjang beliau di Kementerian BUMN, nostlagia masa-masa gelap Pontianak kembali terjadi. Saya hampir yakin 100% kalau tulisan opini seperti ini tidak disimpan di database koran ini. Karena kalau disimpan semua dari dulu sampai sekarang, mungkin sudah setebal ensiklopedia. Pak Dahlan mungkin tidak akan membaca tulisan ini atau tulisan-tulisan lain yang sejenis, tapi saya berdoa semoga dengan satu atau cara lain hal ini bisa diketahui beliau. Dan mungkin saja beliau memang sudah tahu. Meskipun bukan nahkoda langsung, toh PLN masih di bawah beliau.
Demi kelancaran usaha, pemilik usaha memakai genset yang tentunya perlu BBM. Untuk membeli BBM kebutuhan genset memakai jerigen, dipersulit bahkan dilarang. Dan meskipun cukup sering memakai genset, tagihan sama saja (kasus klasik). Otomatis operational cost meningkat. Mungkin karena belum ada (atau belum banyak) UKM yang bangkrut karena hal ini, jadi tidak ada perubahan. Intinya, apa sih masalahnya PLN? Mesin-mesin tua? Bahan bakar? Tali layangan? Masa begitu ditinggal Pak Dahlan langsung kambuh? Sampai kapantrademark ini akan dipertahankan? Apakah terlalu berharap PLN akan menjadi lebih baik di sisa tahun ini dan seterusnya? Mudah-mudahan tidak...
- SW -
Categories: None
The words you entered did not match the given text. Please try again.
Oops!
Oops, you forgot something.