Thoughts of T

I think, therefor I write.

T's Notes

Bom Bali III?

Posted by Sutanto Wijaya on April 28, 2012 at 7:10 AM

  Januari lalu saya berkesempatan mengunjungi Bali untuk kedua kalinya setelah lebih dari sepuluh tahun. Terakhir saya ke sana untuk merayakan pergantian millennium dari Desember 1999 sampai Januari 2000. Bencana Y2K yang digembar-gemborkan waktu itu memang tidak terjadi. Waktu itu ketika jam countdown besar di dekat Pantai Kuta berdentang ke detik pertama tahun 2000, saya sedang berada di pantai bersama teman-teman dan ribuan massa merayakan pergantian tahun yang baru. Waktu itu benar-benar luar biasa meriah, mulai dari ketika kami berjalan kaki menuju pantai dari hotel, dimana sepanjang jalan orang-orang berkumpul di dalam café maupun di tepi jalan sambil meniupkan terompet sekeras-kerasnya. Diantara kerumunan massa ini pastinya adalah para warga negara asing (baca: bule) yang terlihat sangat menikmati suasana, minum bir, bernyanyi dan menari. Benar-benar ‘la dolce vita’ (the sweet life) untuk mereka. Dan saya berani bilang, inilah Bali at its best. Bali yang menarik begitu banyak wisatawan dari seluruh dunia.

Memori masa lalu itu tidak luput dari pikiran saya dalam kunjungan kali ini. Dan ketika saya mengunjungi monumen Bom Bali di Legian, saya tidak bisa menahan diri untuk merinding. Di dekat dinding, terletak papan kecil bertuliskan: “Happy Birthday, Joey”. Ratusan nama korban selain Joey (termasuk dari Indonesia sendiri) yang tertulis di dinding benar-benar membuat saya berpikir, kita bisa “check out” kapan dan dimana saja tanpa bisa kita ketahui dan kendalikan. Tapi yang membuat saya sungguh menyayangkan adalah, kejadian ini merupakan hasil inisiatif dan aksi manusia. Bukan karena bencana alam yang diluar kendali manusia. Saya pikir, membunuh atas nama apapun adalah tidak benar, dan hanya merupakan alasan untuk pelampiasan ego. Itulah yang dilakukan mereka yang kita kutuk. Mengapa kita melakukan hal yang sama? Di negeri sendiri? Apakah aksi ini membawa dampak positif untuk bangsa kita? Ironisnya, kejadian ini terjadi tidak hanya sekali, tapi dua kali. Dan yang lebih menyedihkan lagi, aksi bom seperti ini seringnya terjadi di negara kita, tidak di negara tetangga kita seperti Malaysia dan Singapura yang sangat agresif mempromosikan parawisata.


Hari ini, Bali sudah kembali ramai. Info dari sedikit riset yang saya lakukan, sekarang ini kunjungan wisman ke Bali bahkan lebih tinggi jumlahnya dibanding dulu. Saya lihat sendiri banyaknya bis-bis pariwisata yang mengangkut wisman dari RRC, yang sekarang ini tercatat sebagai penyumbang jumlah wisman terbesar kedua setelah Australia, melewati Jepang. Majunya ekonomi negara tersebut pastinya juga memegang peranan. Bule-bule dari manca negara pun banyak yang berkeliaran di daerah Jimbaran naik motor. Ketika di pesawat menuju Bali, saya melihat seorang bule yang sedang membaca novel ‘Eat, Pray, Love’ yang ber-setting di Bali dan difilmkan dengan aktris Julia Roberts. Film ini pastinya menjadi marketing ampuh untuk Bali. Dalam hati saya berpikir, Bali sudah kembali ke masa kejayaannya. Tapi akankah kejadian kelam masa lalu berulang suatu hari nanti? Berapa kali Bali harus membuktikan diri kalau sang Pulau Dewata bisa come back meskipun diporak-porandakan manusia? Saya berdoa dalam hati: “jangan lagi…semoga tidak…semoga”. Indonesia, sadarlah. Bangkitlah, dan bersatulah. Bukan saya, kamu, atau mereka. Tapi kita. May we all live in peace and harmony. Amen.

- SW -  

Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments