Thoughts of T

I think, therefor I write.

T's Notes

Air dan Kehidupan

Posted by Sutanto Wijaya on April 22, 2013 at 1:00 PM

“Water is the driving force in nature.”

― Leonardo da Vinci

 


Apakah kaitan air dengan kehidupan? Mungkin Anda akan bilang bahwa pertanyaan saya tersebut terlalu mengada-ada dan lebih cocok untuk ditanyakan kepada anak SD. Mungkin Anda benar. Seseorang yang berpendidikan PhD hampir pasti dapat menjelaskan dengan panjang lebar kaitan air dan kehidupan dari segala aspek: kesehatan, pertanian, bisnis, teknologi, ekonomi dan sebagainya. Lalu kenapa menanyakan sesuatu yang sangat lumrah? Yang jawabannya, kalau meminjam istilah yang trend sekarang, nenek-nenek juga tahu? Menurut hemat saya, di jaman yang serba modern dan maju ini ada banyak orang “pintar”. Saking pintarnya, mereka menganggap remeh pertanyaan seperti ini. Tapi masalahnya sebenarnya adalah bukan seberapa hebat dan ilmiah jawaban yang dapat kita berikan terhadap pertanyaan tersebut, tapi seberapa dalam kita menghayati dan jauh lebih penting lagi menindak lanjutinya dalam bentuk perbuatan nyata. Sebagai contoh, jawaban yang paling mendasar adalah kaitan air dengan kehidupan yaitu tanpa air tidak akan ada kehidupan. Titik. Semua orang tahu itu (Ok, maafkan saya. Mungkin tidak semua orang :) ).

 

Tapi apakah dengan mengetahui fakta krusial ini saja cukup? Ternyata tidak. Karena pada kenyataannya, meskipun tahu pasti bahwa “tidak ada air berarti tidak ada kehidupan” adalah fakta yang tidak terbantahkan, masih banyak diantara kita yang kurang peduli dengan air. Tidak perlu jauh-jauh, perhatikan saja di sekitar lingkungan kita. Saya yakin Anda pasti akan melihat kasus-kasus “pelecehan” air, dimana air dipakai dan dibuang seakan-akan tidak ada batasnya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah, sebagian dari orang-orang ini adalah mereka yang sebenarnya pernah mengalami krisis air. Artinya mereka sebelumnya pernah merasakan betapa susahnya dan menderitanya kekurangan air bersih untuk dipakai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pada saat musim kering atau sedang terjadi gangguan supply air dari PDAM. Tapi begitu krisis lewat, merekapun kembali ke gaya “business as usual” alias pola hidup lama yang suka memboroskan air. Kelompok yang lain adalah mereka yang selama hidupnya selalu berkelimpahan air. Mereka sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana rasanya kekurangan air. Untuk kelompok ini, jangankan bersimpati terhadap kemungkinan terjadinya masalah kekurangan air di dunia, yang ada mereka menuntut fasilitas ekstra yang menyedot semakin banyak sumber daya air seperti Jacuzzi, kolam renang pribadi, dan lain-lain. Ya, mereka ini adalah kalangan atas yang praktis tidak pernah merasakan kekurangan material apapun. Ada lagi orang-orang yang termasuk grup EGPBGYB (Emang Gue Pikirin Bukan Gue Yang Bayar). Mereka ini biasanya karyawan yang bukan hanya memang profesinya karyawan, tapi juga bermentalitas karyawan sejati. Dalam kasus pemakaian air, mereka akan memboroskan air karena dalam pikiran mereka, toh bukan mereka yang harus membayar tagihan dari PDAM nantinya, tapi perusahaan. Parahnya lagi, ada yang melakukannya dengan motif balas dendam langsung maupun tidak langsung: gaji tidak naik-naik, Boss pilih kasih, diputus pacar dan lain sebagainya. Saya dulu pernah melihat sendiri rekan-rekan kerja yang menarik tisu toilet dari roll nya seperti sedang menarik tali layangan. Satu roll tisu toilet yang baru diganti, gone in 60 seconds...

 

Mungkin kita tidak termasuk kelompok-kelompok di atas, tapi kalau kita mau jujur, sebagian besar dari kita memang kurang peduli dengan lingkungan, dalam hal ini termasuk air. Kita terlalu sibuk dan tidak mau dipusingkan dengan segala slogan “go green” dan “save the planet” yang didengungkan para aktifis lingkungan hidup. Bagi kita, mungkin slogan-slogan tersebut berlebihan bahkan klise. Selama kita tidak kekurangan dan dampaknya tidak atau belum kita rasakan, why should we care, right? Jawabannya pertanyaan ini saya kembalikan kepada diri kita masing-masing. Tapi menurut saya, itulah kenapa penting untuk dari waktu ke waktu menanyakan pada diri kita sendiri pertanyaan-pertanyaan sederhana tapi menuntut pemikiran yang mendalam. Kalau saya bisa menjadi manusia yang lebih baik, haruskah saya? Kalau saya bisa sedikit membantu untuk menjaga kelestarian lingkungan demi generasi masa depan, perlukah saya? Kalau saya bisa untuk tidak memakai air berlebihan diluar keperluan, maukah saya? Perlukah dan pentingkah bagi saya untuk peduli terhadap suatu hal, jika hal tersebut tidak membawa dampak atau manfaat langsung terhadap kehidupan saya? Dan mungkin pertanyaan bernilai satu juta dollar dan yang terpenting adalah, maukah saya berkomitmen untuk melakukan hal-hal yang benar dalam tindakan nyata? Yang dalam kasus kita kali ini adalah ikut melestarikan air?

 

Tapi mohon maaf sekali lagi, mungkin masalah kita ini tidak sesederhana yang saya pikir. Karena bisa jadi, orang tidak atau kurang peduli karena sebenarnya mereka tidak tahu persis apa masalahnya. Mereka bahkan mungkin bertanya: “Kenapa sih ribut-ribut soal air? Memangnya ada krisis air?” Untuk kasus yang seperti ini, ketidaktahuan jelas bukan hal yang baik. Ignorance is NOT a bliss. Ijinkan saya untuk memaparkan sedikit tentang situasi dan kondisi air di dunia. Harapan saya adalah setelah membacanya, Anda akan tergerak, menjadi peduli dan ikut berpartisipasi dalam pelestarian air.

 

Menurut laporan dari World Business Council for Sustainable Development (WBCSD):

Kurang dari 3% air di dunia adalah adalah air bersih. Selebihnya, atau sebanyak 97% adalah air laut yang tidak bisa diminum.

Dari 3% persen ini, 2.5% adalah dalam bentuk es beku di Kutub Utara dan Selatan, serta sungai es yang tidak bisa dipakai oleh manusia.

Dengan demikian, umat manusia bergantung pada sisa 0.5% yang ada untuk seluruh keperluan hidupnya dan juga lingkungannya.

 

Lalu, ada di manakah sebenarnya sisa 0.5% air yang tersedia untuk dipakai ini?

Sebanyak 10.000.000 km3 tersimpan dalam lapisan bawah tanah yang disebut aquifer. Sekedar gambaran untuk Anda, jumlah tersebut setara dengan 4.000.000.000.000 (empat trilyun) kali air yang terdapat dalam kolam renang ukuran standar Olimpiade. 1 kilometer kubik (km3) = 1.000.000.000 meter kubik (m3). Satu buah kolam renang ukuran standar Olimpiade = 50 m X 25 m X 2 m = 2.500 m3 (estimasi).

Sebanyak 119.000 km3 dalam bentuk air hujan.

Sebanyak 91.000 km3 dalam bentuk danau-danau alamiah.

Lebih dari 5.000 km3 tersimpan dalam tempat penyimpanan air buatan manusia (reservoir)

2120 km3 ada pada sungai-sungai yang memperoleh airnya dari hujan dan salju serta es yang mencair.

 

Apakah air bersih ini tersebar merata di seluruh dunia? Ternyata tidak. 60% persediaan air bersih di dunia tersebar di negara-negara ini: Brazil, Rusia, Cina, Canada, Indonesia, AS, India, Kolombia dan Kongo. Pemakaian air bersih ini di negara yang kaya adalah mayoritas (59%) untuk kebutuhan industri berbanding hanya 10% di negara dengan tingkat pendapatan yang lebih rendah. Sebaliknya, di negara dengan pendapatan yang lebih rendah mayoritas pemakaian air bersih sebanyak 82% adalah untuk kebutuhan pertanian, berbanding hanya 30% di negara berpendapatan tinggi. Kalau ditotalkan di seluruh dunia, sebagian besar yakni 70% air bersih dipakai untuk kebutuhan pertanian, 22% untuk kebutuhan industri dan 8% untuk rumah tangga. (PERINGATAN: kepada seluruh penduduk Indonesia, jangan hanya negara kita termasuk ke dalam kelompok yang memiliki persediaan air bersih lebih banyak, dijadikan alasan untuk memboroskan air!)

 

Menurut laporan WBCSD, krisis air atau yang disebut dengan istilah “water stress” terjadi jika ketersediaan air bersih untuk kebutuhan per kapita per tahun kurang dari 1700 meter kubik. Pada kondisi ini, negara-negara di dunia mulai akan merasakan kekurangan air secara periodik. Dan kalau angka tersebut sampai turun menjadi 1000 meter kubik per kapita, perkembangan ekonomi dunia akan terhambat, kesehatan dan kelangsungan hidup manusia akan terancam. PBB memperkirakan di tahun 2050 jumlah penduduk akan bertambah sekitar 3 milyar, dengan mayoritas pertumbuhan terjadi di negara-negara berkembang yang sebenarnya sudah mengalami krisis air. Di mayoritas kota-kota padat penduduk di Eropa, tingkat pemakaian air bawah tanah lebih cepat daripada kemampuan persediaan air alam tersebut untuk terisi kembali. Dan di beberapa kota di dunia seperti Beijing, Shanghai, Bangkok, Manila dan Mexico City, persediaan air bawah tanah turun sedalam 10-50 meter. Setengah dari wilayah perairan di dunia telah sirna seiring dengan berlalunya abad. Sejumlah sungai di dunia alirannya sudah tidak mencapai laut, dan ribuan spesies ikan terancam punah bahkan ada yang sudah punah.

 

Jadi kalau melihat laporan-laporan yang ada, krisis air sudah pasti akan terjadi di masa depan jika tidak ada tindakan untuk melestarikan dan mendaur ulang air. Untuk bahan evaluasi, mari kita analisa tindakan-tindakan manusia yang menyebabkan krisis air:

Pemakaian berlebihan dari air permukaan. Sebagai contoh adalah Laut Aral di bekas negara Uni Soviet yang selama 30 tahun terakhir ukurannya telah berkurang lebih dari setengah ukuran asalnya, yang disebabkan karena aliran sumber airnya yang berasal dari sungai Amu Dar’ya dan Syr Dar’ya dialihkan untuk keperluan irigasi padi dan kapas yang menyerap sangat banyak air.

Pemakaian berlebihan dari air bawah tanah. Di India, pengambilan air bawah telah menyebabkan sumber air bawah tanah ditembusi air laut yang menjadikannya tidak layak pakai. Hal ini diperburuk oleh tercemarnya sumber air bawah tanah ini oleh air sisa irigasi yang mengandung pupuk dan pestisida.

Polusi sumber air bersih. Pabrik kertas di Cina yang dulunya menggunakan teknologi yang masih tertinggal telah mencemari sungai di sekitarnya, yang tidak saja menyebabkan airnya menjadi tidak bisa dipakai tapi juga membunuh ikan-ikan yang hidup di dalamnya. Kabar baiknya adalah pemerintah Cina telah bekerja sama dengan perusahaan Finlandia untuk membangun pabrik kertas berteknologi tinggi dan pabrik-pabrik lama ditutup. Sungai-sungai yang tercemar telah mengalami perbaikan kondisi yang signifikan.

Inefisiensi pemakaian air bersih. Praktek irigasi yang yang tidak tepat, kebocoran yang terjadi di sistem penyediaan air, pemakaian yang berlebihan di dunia industri dan individual semuanya menyumbang pada terjadinya krisis air.

 

Untungnya, selain semua kabar buruk di atas, ada juga beberapa kabar baik:

Di tahun 2002, 83% penduduk dunia sudah memiliki sarana air minum yang lebih baik.

Cakupan wilayah tersedianya air minum semakin meningkat di beberapa negara Afrika.

Diterapkannya sistem irigasi “drip irrigation” yang menggunakan pipa plastik yang mengalirkan air langsung ke titik-titik akar tanaman tanpa harus mengaliri seluruh area penanaman, dan menampung air lebih untuk digunakan kembali.

Ashkelon, sebuah pabrik di Israel telah mampu menetralisir kadar garam dari air laut Mediterania dengan teknologi reverse osmosis yang dikembangkan lebih lanjut. Teknologi ini lebih hemat energi dan juga menghasilkan air bersih dengan harga yang lebih murah.

Singapura telah menerapkan teknologi penyaringan yang mampu mendaur ulang greywater atau air limbah domestik seperti sisa pencucian piring, pakaian dan juga air mandi menjadi air minum.

Sebuah perusahaan otomotif di Meksiko telah berhasil menghemat konsumsi air per unit produksi sebesar 90%, dan memenangkan Stockholm Industry Water Award di tahun 2001.

Sebagai citizen of the world atau warga dunia, adalah tugas kita untuk mendukung dan berpartisipasi untuk menciptakan semakin banyak kabar baik-kabar baik seperti ini, dan mengurangi bahkan sedapat mungkin menghilangkan faktor-faktor yang dapat menjadi kabar buruk untuk kondisi air bersih dunia.

 

Sekarang mari kita bahas pemakaian air bersih di masing-masing bidang yang menjadi konsumen terbesar: pertanian, industri dan rumah tangga.

 

Mayoritas air yang dipakai untuk kebutuhan pertanian di dunia sangat penting karena berkaitan dengan produksi makanan untuk kebutuhan dunia. Masalah yang terjadi adalah adanya kompetisi dalam hal pemakaian air antara ketiga bidang tersebut di atas dan juga adanya inefisiensi dalam praktek irigasi yang membuat supply air untuk pertanian berkurang, yang tentunya juga akan berdampak pada jumlah produksi pangan. Apalagi dengan berjalannya waktu, jumlah penduduk dunia semakin bertambah yang berbanding lurus dengan jumlah kebutuhan pangan dunia. Bisa bayangkan skenario dimana dunia ini sampai pada titik supply pangan tidak mencukupi untuk memberi makan milyaran manusia di dunia? Pastinya mendekati doomsday scenario atau scenario hari kiamat. Orang-orang berebut makanan atau bahkan mungkin harus saling membunuh hanya untuk bertahan hidup. Saya pribadi tidak berani membayangkan, terlalu menakutkan...

 

Kebutuhan air bersih terbesar kedua di dunia untuk sektor industri juga penting, karena intinya: “no water, no business”. Dunia industri dan bisnis tidak akan bisa beroperasi tanpa adanya pasokan air yang memadai. Mulai dari pembangkit tenaga thermal yang merupakan konsumen terbesar air bersih untuk kebutuhan pendinginan, pabrik kertas, pabrik pembuat microchip, pabrik tekstil, pabrik gula, sampai ke industri makanan, minuman dan farmasi yang membutuhkan air sebagai bahan baku, sangat tergantung kepada tersedianya air bersih untuk bisa bertahan hidup. Masalahnya, dunia industri juga ikut menyumbang terjadinya krisis air dengan pembuangan limbah berlebihan ke sungai dan danau. Secara alamiah, sungai dan danau mampu menetralisir sedikit limbah buangan ini. Tapi karena jumlah limbah buangan melebihi batas toleransi alam, kualitas air bersih alami ini menjadi menurun dan bahkan menjadi tidak bisa digunakan tanpa proses daur ulang yang mahal. Itupun kalau kita hanya berbicara mengenai dampak langsungnya. Secara tidak langsung, kalau industri sampai berhenti beroperasi, tentunya akan berdampak pada PHK karyawan-karyawan pabrik. Kalau hal ini terjadi dalam skala besar, sangat mungkin akan memicu krisis ekonomi global. Skenario yang familiar?

 

Selain sebagai konsumen, dunia industri juga berperan sebagai produsen air bersih. Pernahkah dulu Anda berpikir bahwa air bisa menjadi sebuah industri? Bahkan industri besar? Sesuatu yang boleh dibilang gratis dari alam, diperdagangkan? Ya, sebelum era air minum mineral kemasan dijual untuk pertama kalinya, hal ini mungkin tidak terpikirkan oleh sebagian besar orang. Trendsetter di bidang ini kemungkinan mendapat cap “brilliant” atau “gila”. Tidak main-main, saat ini dunia membelanjakan lebih dari 100 milliar dollar untuk air minum kemasan. Fakta-fakta menarik tentang industri air minum kemasan menurut Business Insider:

Kalau Anda merasa bidang usaha jual beli air belumlah begitu lama, Anda salah. Sejarah mencatat bisnis air minum dalam kemasan sudah dimulai di tahun 1760an di Boston, Amerika Serikat. Kala itu sebuah bisnis yang bernama Jackson’s Spa, menjual air mineral untuk keperluan pengobatan.

Konsumsi global air minum kemasan meningkat 10% setiap tahunnya. Pertumbuhan terlambat terjadi di benua Eropa, padahal air minum kemasan bermerk seperti Perrier sudah ada sejak berabad-abad yang lalu! Pertumbuhan yang lebih cepat terjadi di Asia dan Amerika Selatan, dengan total konsumsi tertinggi di Amerika Utara.

Di negara maju seperti AS yang air kerannya layak minum, konsumsi air minum kemasan mencapai 9 milliar galon di tahun 2008, atau rata-rata 30 galon per orang (113.550 liter standar Amerika).

Di negara bagian California di Amerika Serikat, harga air keran 560 kali lebih murah daripada air minum kemasan.

Produksi botol untuk air minum kemasan memakai 17 juta barel minyak setiap tahunnya, dan proses pembuatan botol kemasan ini mengkonsumsi air tiga kali lebih banyak daripada jumlah air yang dipakai untuk mengisi botol-botol tersebut. Jumlah minyak yang terpakai bisa untuk mengisi satu juta mobil.

Dari total 30 milliar buah botol minuman plastik yang diproduksi di AS di tahun 2005, hanya 12% nya yang didaur ulang. Catatan penting lainnya adalah, plastik yang sudah didaur ulang ini tidak bisa dipakai pada produk-produk makanan lagi.

 

Bisa dilihat bahwa dunia industri juga ikut menjadi penyebab krisis air dan bahkan pencemaran lingkungan. Ada tanggung jawab moral yang besar bagi pihak korporasi untuk ikut berpartisipasi dalam upaya pelestarian air bersih dan lingkungan. Sangat penting bagi pihak pemerintah untuk melakukan pengawasan sehubungan dengan hal ini dan memberikan tindakan tegas bagi perusahaan yang melanggar. Sebagai konsumen air dunia terbesar kedua, adalah sangat penting bagi dunia industri untuk melakukan tindakan konkrit untuk memelihara tersedianya air bersih di dunia. Beberapa langkah yang bisa ditempuh antara lain:

Mengukur dan memonitor secara rutin pemakaian airnya.

Usaha berkelanjutan untuk mengurangi pemakaian air dengan cara daur ulang air, mengurangi pemakaian zat beracun yang bisa mencemari air, mengubah proses produksi menjadi lebih hemat air.

Mendorong partner-partner usahanya untuk menerapkan praktek pengelolaan air yang efisien.

Berinovasi untuk mencari cara pengelolaan air terbaik.

Bekerja sama dengan pihak pemerintah untuk membangun fasilitas penyediaan air dan pemeliharaan kesehatan yang hemat biaya.

Bekerja sama dengan NGO untuk mendorong sistem pemeliharaan dan pengelolaan air yang lebih baik.

Bekerja sama dengan komunitas iptek untuk meningkatkan pemahaman tentang sumber daya air dan pengelolaannya, serta mengembangkan teknologi untuk mendapatkan hasil terbaik dari siklus air.

 

Lalu bagaimana situasi dan kondisi air di lingkup yang lebih kecil, di kehidupan kita sehari-hari? Renungkan fakta-fakta berikut ini:

3900 orang anak-anak di dunia meninggal setiap hari karena masalah air kotor dan sanitasi yang buruk.

1.8 juta orang meninggal dunia setiap tahun karena penyakit yang berhubungan dengan diare (termasuk kolera). Jumlah ini sama dengan korban 15 kejadian tsunami setiap tahun atau korban 12 pesawat Boeing 747 yang mengalami kecelakaan setiap hari!

Sampai dengan tahun 2002, lebih dari satu milyar manusia di dunia hidup dalam lingkungan tanpa air minum bersih yang memadai, dan 2.6 milyar orang hidup tanpa sanitasi yang memadai.

 

Saya rasa kita semua akan setuju bahwa fakta di atas bukanlah suatu gambaran yang cantik. Maafkan jika seandainya pemakaian kata saya kurang sensitif, karena saya mencoba menghindari penggunaan kata-kata seperti ‘tragedi’ atau ‘tragis’. Walau sangat jelas bahwa hal-hal tersebut merupakan tragedi kemanusiaan. Ok, mungkin Anda tidak hidup dalam lingkungan yang sehari-hari kekurangan air seperti saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Saya akui, tidak mudah untuk bersimpati terhadap suatu hal yang tidak memiliki kaitan langsung baik fisik maupun emosional dengan kita secara pribadi. Tapi coba renungkan juga fakta-fakta berikut ini tentang kaitan air dengan kehidupan, yang mudah-mudahan dapat memberikan sedikit pencerahan tentang betapa pentingnya air:

Tidak ada satupun makhluk hidup di dunia ini yang bisa bertahan hidup tanpa air. Mulai dari mikroorganisme yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop sampai ke mamalia terbesar di dunia seperti ikan paus biru.

Manusia hanya bisa bertahan hidup beberapa hari tanpa air minum.

Air merupakan pelarut terbaik diantara semua jenis cairan yang ada di muka bumi.

Tergantung pada usia dan ukuran tubuh, 55-78% dari tubuh manusia terdiri dari air.

Turunnya berat badan seseorang setelah melakukan aktifitas berat, adalah karena faktor kehilangan air, bukan karena hilangnya lemak dalam tubuh.

Tergantung pada aktifitas sehari-hari dan temperatur udara, tubuh manusia memerlukan antara 1-7 liter air. Jumlah rata-rata yang disarankan adalah 1-2 liter atau sekitar 7-8 gelas. Jadi mereka yang memiliki aktifitas berat atau tinggal di tempat bertemperatur tinggi tentunya memerlukan konsumsi air yang lebih tinggi.

Kalau Anda punya tanaman di rumah, menyiraminya secara rutin adalah kewajiban! Dalam proses fotosintensis dengan bantuan sinar matahari, atom hidrogen dalam unsur kimia air (H2O) dipecah untuk kemudian bergabung dengan CO2 membentuk glukosa yang menjadi makanan bagi tumbuhan. Tumbuhan kemudian melepaskan O2 atau oksigen yang kita hirup untuk hidup. Jadi acara menyirami tanaman di rumah itu bukan sekedar hobby, iseng, apalagi sebagai alibi supaya terlihat sebagai pendukung penghijauan atau alasan untuk melihat “pemandangan” di sekitar rumah.

Jumlah air yang dipakai oleh seseorang untuk mandi dengan menggunakan shower selama 5 menit di Amerika Serikat lebih banyak daripada jumlah air yang dipakai oleh seseorang di daerah kumuh negara berkembang dalam sehari.

Di era komunikasi serba canggih ini, lebih banyak orang yang punya handphone daripada fasilitas toilet yang layak!

 

Nah, apakah fakta-fakta terakhir ini cukup membumi untuk Anda? Jadi ingatlah untuk menghargai air. Saya tahu pasti bahwa godaan untuk berlama-lama menikmati mandi shower sangat susah untuk dilawan, tapi ingat bahwa Anda yang berkuasa atas nafsu dan keinginan Anda, bukan sebaliknya. Saya pernah membaca tentang beberapa selebritis Indonesia yang mendaur ulang air mandinya untuk dipakai mencuci dan lain-lain. Menurut saya tindakan seperti ini layak didukung dan diteladani. Perlu berapa banyak film-film seperti “A Day After Tomorrow”, “Avatar” dan lain-lain untuk mengingatkan kita bahwa bumi kita sedang kita rusak sendiri? Dan suatu saat nanti ketika pengrusakan yang kita lakukan sudah melampaui batas toleransinya, bumi kita ini akan “mengamuk” dan manusia sendiri yang harus membayar harganya? Memang bukan tugas yang mudah bagi para advokat pelestarian lingkungan. Karena pada umumnya manusia kurang responsif terhadap dampak tidak langsung. Kasus yang paling klasik, sebelum jatuh sakit atau didiagnosa menderita penyakit berat, kebanyakan dari kita tidak akan terlalu peduli untuk menjaga pola makan dan gaya hidup kita. Lebih hebat lagi, sama seperti kasus krisis air, mereka yang sudah pernah jatuh sakit pun, setelah sembuh seakan-akan terkena amnesia dan kembali ke pola gaya hidupnya yang lama.

 

Saat ini ada lebih dari 7 milliar penduduk bumi. Saya tidak tahu berapa banyak orang yang akan membaca tulisan ini. But then again, seberapa banyak mungkin tidak terlalu penting. Layaknya sebuah ripple effect, harapan terbesar saya adalah tulisan ini bisa menginspirasi paling tidak satu orang dan orang tersebut bisa melanjutkannya ke satu orang berikutnya dan begitu seterusnya. Meminjam istilah Stephen Covey, yang perlu kita lakukan adalah fokus pada circle of influence atau lingkaran pengaruh kita. Kita mungkin tidak bisa berbuat banyak terhadap krisis air global yang menjadi circle of concern atau lingkaran kepedulian kita, tapi kita bisa melakukan sesuatu di lingkungan sekitar kita, dimulai dari pribadi dan rumah kita. To know but not to do is not to know. Pertanyaan final saya: “Maukah Anda?”

 

“Be the change you want to see in the world.” – Mahatma Gandhi

 

“An ounce of action is worth a ton of theory.” – Ralph Waldo Emerson

 

“We never know which lives we influence, or when, or why.” – Stephen King

 

“A parent gives life, but as parent, gives no more. A murderer takes life, but his deed stops there. A teacher affects eternity; he can never tell where his influence stops.”

– Henry Adams

 

“Remember there’s no such thing as a small act of kindness. Every act creates a ripple with no logical end.” – Scott Adams

Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments