Thoughts of T

I think, therefor I write.

T's Notes

Menumbuhkan Wirausahawan Muda

Posted by Sutanto Wijaya on April 24, 2013 at 10:45 AM

“Entrepreneurship is living a few years of your life like most people won’t, so that you can spend the rest of your life like most people can’t”

- Anonymous

 

Pertama-tama, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan istilah wirausahawan dan kewirausahaan? Atau yang istilah kerennya dalam bahasa Inggris entrepreneur dan entrepreneurship? Istilah ini belakangan begitu seksi dan sering didengungkan di koran, buku, majalah, TV, internet dan sebagainya dengan tagline-tagline yang catchy seperti: “Mau kaya? Jadi pengusaha!”; “Kalau bisa jadi Boss, kenapa harus jadi karyawan?” dan masih banyak lagi. Mari kita simak sejenak definisi berikut ini:

Kewirausahaan atau Wirausaha: (Inggris: Entrepreneurship)

Proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.

 

Wirausahawan: (Inggris: Entrepreneur)

Orang yang mengorganisir dan mengoperasikan sebuah bisnis atau sejumlah bisnis, dengan mengambil resiko finansial dalam melakukannya.

 

Lalu, mengapa kita harus menumbuhkan wirausahawan muda? Apa esensinya? Kemudian, apakah harus terbatas kepada mereka yang berusia muda saja? Bagaimana dengan mereka yang sudah masuk kategori usia yang tidak muda lagi? Apakah berarti golongan usia lanjut sudah tidak bisa menjadi seorang wirausahawan dan bertumbuh lagi? Tentunya tidak demikian. Karena kalau demikian adanya, hari ini kita tidak akan menikmati renyahnya ayam goreng KFC dan juga french fries plus burger nya McDonald’s. Dua nama yang pastinya termasuk kisah paling terkenal dalam sejarah dunia kewirausahaan. Sejarah mencatat bahwa kedua usaha tersebut dirintis oleh wirausahawan yang sudah tidak muda lagi pada waktu itu. KFC oleh Harland Sanders dan McDonald’s oleh Ray Kroc. Kedua tokoh legendaris ini menjadi inspirasi bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk menjadi pengusaha, dan usia bukanlah suatu batasan atau kendala.


Tapi di topik kita ini, penekanannya adalah pada kaum muda. Karena tidak bisa dipungkiri, kaum muda umumnya memiliki energi dan daya dobrak yang lebih tinggi. Mereka ini jugalah yang akan menjadi tumpuan harapan ketika para pengusaha senior mulai menginjak masa pensiun. Kepada mereka inilah tongkat estafet akan diberikan, untuk meneruskan perjuangan menjadikan dunia tempat yang lebih baik melalui kewirausahaan. Anda boleh saja kagum dan terinspirasi oleh Kolonel Sanders maupun Ray Kroc, tapi tidak berarti Anda harus menjalani persis napak tilas mereka. Jadi meskipun usia bukanlah hambatan untuk berwirausaha, jangan menunggu sampai sudah mencapai usaha pensiun untuk memulainya. Mulailah sedini mungkin sehingga waktu pengabdian Anda kepada masyarakat juga bisa lebih panjang. Seperti kata pepatah Cina: “The best time to plant a tree was 20 years ago. The second best time is now”. Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah dua puluh tahun lalu, dan waktu terbaik kedua adalah sekarang.


Kembali ke pertanyaan mengapa perlu menumbuhkan wirausahawan muda, mari kita lihat sejenak fakta wirausaha di negara dengan kekuatan ekonomi nomor satu di dunia, Amerika Serikat. Menurut laporan Kauffman Fast Facts tentang hubungan wirausaha dengan ekonomi di negara adidaya tersebut:

• Dari tahun 1980-2005, perusahaan yang berusia kurang dari lima tahun bertanggungjawab terhadap seluruh pertumbuhan bersih lapangan kerja.

• Diluar start-ups atau perusahaan baru, perusahaan muda yang berusia satu sampai lima tahun, bertanggungjawab terhadap hampir dua pertiga dari jumlah total penciptaan lapangan kerja di tahun 2007.

• Meskipun hanya setengah dari perusahaan baru ini yang bisa bertahan sampai lima tahun, 80 persen dari lapangan kerja yang diciptakan bisa bertahan sampai lima tahun.

• Perusahaan baru di AS telah menciptakan 3 juta lapangan kerja baru setiap tahun, meskipun angka ini menurun menjadi 2.3 juta di tahun 2009.

• Jika 30-60 buah perusahaan baru yang bernilai miliaran dollar didirikan setiap tahun, akan meningkatkan secara permanen PDB AS sebesar 1 persen.

Jadi bisa dilihat pentingnya wirausaha dalam kaitannya dengan tingkat perekonomian suatu negara. Mungkin Anda bilang terlalu jauh membandingkan ekonomi AS dengan Indonesia. Cukup fair. Sekarang mari lihat hal serupa di kawasan yang lebih dekat di Asia, yakni China, yang saat ini merupakan kekuatan ekonomi kedua di dunia.

• Para pakar mengestimasikan bahwa perusahaan kecil dan menengah di negara ini bertanggungjawab terhadap 60% hasil industrinya, dan mempekerjakan 75% tenaga kerja di kota-kotanya.

• Perusahaan swasta merupakan sektor dengan pertumbuhan tertinggi dari ekonomi China, bertumbuh sebesar 20% setiap tahunnya, jauh lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 9.5% selama dua dekade terakhir. Sektor swasta mempekerjakan jutaan orang yang diberhentikan dari pabrik-pabrik milik negara yang kurang berhasil, dan menjadi penyumbang porsi pajak yang meningkat untuk pendapatan pemerintah. Sampai dengan akhir 2001, sektor swasta mempekerjakan 70 juta tenaga kerja, berpenghasilan 1.9 triliun Yuan (US$ 232 milliar), menjadi penyumbang 20% PDB, berdasarkan laporan statistik resmi yang dikeluarkan tahun 2002.


Nasehat orang bijak, learn from the best, belajarlah dari terbaik. Menurut saya tidak ada lagi yang lebih bijaksana daripada belajar dari kedua negara tersebut, baik sisi positif maupun negatifnya. Karena tidak tertutup kemungkinan adanya praktek yang negatif dalam menjalankan usaha seperti penggunaan tenaga kerja dibawah umur, diskriminasi gender/ras dan sebagainya yang tidak pantas ditiru.


Setelah menjawab pertanyaan ‘mengapa’, pertanyaan berikutnya: bagaimana caranya? Sebelumnya, mari kita cermati situasi dan kondisi dunia kewirausahaan di Indonesia saat ini:

• Menurut data BPS, jumlah wirausahawan di Indonesia pada tahun 2012 baru mencapai 1.56% dari jumlah populasi. Kalau mengacu pada teori David McLelland, seorang sosiolog pembangunan, sebuah negara dapat dikatakan makmur jika 2% dari populasinya merupakan wirausahawan.

• Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan pertumbuhan wirausaha Indonesia pada 2013. Target ideal adalah dua persen dari jumlah penduduk atau 6.12 juta orang. Jumlah wirausaha Indonesia dua tahun lalu menurut data Kemenkop dan UKM adalah masih di kisaran 0.24% atau 570.339 orang. Program penciptaan wirausaha yang diusung Kemenkop seperti Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) terbukti berhasil menjadi pendorong pertumbuhan wirausaha Indonesia.

• Organisasi seperti Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI) adalah contoh yang sangat baik dalam hal pengembangan semangat kewirausahaan. Badan ini bertujuan untuk menjadi katalisator strategi kewirausahaan di Indonesia bekerja sama dengan program-program sejenis yang telah ada, dan juga berperan sebagai penghubung pengusaha-pengusaha Indonesia dengan prospek investasi dan pembangunan global. Misinya antara lain:

  • Meningkatkan kesadaran tentang kewirausahaan dan inovasi di Indonesia.
  • Bekerja sama untuk menciptakan yang disebut sebagai ekosistem yang tepat untuk para pengusaha baru.
  • Bekerja sama dengan kelompok-kelompok wirausaha dan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan iklim yang mendukung kewirausahaan.
  • Bekerja sama untuk untuk memastikan bahwa para pengusaha baru memperoleh akses finansial, dan akses ke investor lokal maupun internasional.
  • Membantu memfasilitasi pengusaha dan innovator untuk menggapai pasar regional maupun global.

• Ada satu fakta menarik, bahkan mengejutkan untuk saya pribadi, yaitu hasil survey yang dilakukan oleh BBC News yang berbasis di Inggris tentang kewirausahaan. Menurut survey yang melibatkan lebih dari 24 ribu orang responden di 24 negara, Indonesia adalah tempat terbaik bagi seorang wirausahawan untuk memulai bisnis. Pada survey tersebut, peringkat Indonesia bahkan di atas negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada dan Australia!

• Menurut situs International Entrepreneurship, small and medium enterprises (SME) atau usaha kecil menengah (UKM) memegang peranan penting bagi ekonomi Indonesia. UKM di Indonesia berjumlah lebih dari 40 juta yang memberikan kontribusi sebesar 56.7% dari PDB, menyumbang 19.4% dari total ekspor dan mempekerjakan 79 juta tenaga kerja.

 

Kalau melihat fakta-fakta di atas, kabar baiknya adalah pemerintah kita sudah sadar betapa pentingnya wirausaha untuk menunjang ekonomi negara. Jadi untuk menjawab pertanyaan ‘bagaimana’, menurut saya inisiatif-inisiatif seperti yang dilakukan GEPI dan GKN perlu terus dilestarikan dan ditingkatkan lagi. Inisiatif lain seperti yang dilakukan oleh Kemendikbud melalui Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) yakni mengembangkan buku panduan tentang pelaksanaan pendidikan kewirausahaan di sekolah dasar dan menengah juga merupakan hal yang sangat positif. Dengan demikian harapan kita semua target untuk mencapai 2% wirausahawan dari populasi dapat tercapai, yang tentunya akan berdampak pada meningkatnya kesejahteraan bangsa secara keseluruhan. Pengusaha muda, bangkitlah!

 

Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments