Thoughts of T

I think, therefor I write.

T's Notes

Saya Presiden

Posted by Sutanto Wijaya on December 9, 2013 at 12:55 PM

"Some day I shall be President" - Abraham Lincoln -


Kenalkan, saya sang Presiden, yang bertanggungjawab untuk mengubah segala aspek kehidupan Anda menjadi lebih baik. Tapi camkan satu hal, saya bukan nabi yang bisa melakukan keajaiban. Saya juga bukan seorang raja di atas menara tinggi yang menyentuh langit, dengan kekuasaan tanpa batas. Saya hanya manusia biasa. Seandainya Anda belum menyadari hal ini, maka tolong sadarilah hal ini mulai sekarang. Mungkin Anda kecewa, tapi jangan dulu melepas harapan. Ini justru kabar baik untuk Anda. Saya bagian dari Anda sekalian, yang telah diberi kepercayaan oleh sebagian besar dari Anda untuk menjadi nahkoda negara ini. Karena saya merupakan bagian dari Anda, saya mengerti hal-hal yang Anda sekalian hadapi dan rasakan di kehidupan masing-masing. Saya juga mengalaminya. Mobil yang saya pakai mungkin anti peluru, tapi tidak demikian dengan badan saya. Darah yang keluar dari badan saya ketika terluka juga berwarna merah, bukan biru. Maafkan dramatisasi saya, tapi saya hanya ingin Anda benar-benar mengerti dan yakin.


Adalah suatu kehormatan besar dan merupakan mandat yang mulia menjadi Presiden bagi Anda sekalian. Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah memilih seorang Wakil Presiden yang punya visi dan misi yang sama, untuk menjadikan kehidupan Anda sekalian lebih baik. Saya juga akan memilih menteri-menteri dengan cara yang sama. Dan kami akan menjadi kelompok kerja yang berkomitmen untuk memajukan negara ini. Saya akan memberdayakan ilmu dan kebijaksanaan yang telah dirangkumkan oleh penulis Jim Collins dalam bukunya, Built to Last. Meminjam perumpamaan yang beliau pakai di dalam buku tersebut, sebagai pengemudi bis saya akan dengan hati-hati dan sangat selektif memilih siapa saja orang-orang yang akan saya ajak ikut naik ke dalam bis menuju destinasi yang ingin dicapai bersama. Karena kalau saya salah pilih penumpang, bisa-bisa bis yang kami naiki tidak akan mencapai tujuan. Karena kalau saya asal saja menaikkan penumpang, dan baru melakukan seleksi kemudian, akan menjadi lebih sulit. Karena penumpang yang kurang baik sudah bercampur baur dengan penumpang yang baik. Belum lagi para penumpang yang kurang baik ini bisa menjadi duri dalam daging dan mempengaruhi penumpang yang baik. Jim Collins dalam risetnya sudah membuktikan bahwa organisasi-organisasi yang dipelajarinya bisa berjaya dan bertahan lama karena menerapkan kebijaksanaan ini. Meskipun entitas yang dipelajari Mr. Collins adalah korporasi, bukan negara. Toh menurut hemat saya, sama seperti korporasi, negara juga sebuah organisasi. Organisasi yang jauh lebih besar dan kompleks. Tapi saya yakin bahwa filosofi yang sama bisa dipakai untuk mengatasi permasalahan bangsa ini.


Di awal saya sudah menekankan bahwa, untuk mengubah dunia tidak bisa dikerjakan oleh satu orang. Gandhi dan Edison memang telah mengubah dunia melalui pekerjaan mereka, tapi mereka juga punya tim pendukung. Bersama-sama pekerjaan yang berat akan menjadi lebih ringan. Bersama tim kerja ini, saya akan belajar kepada negara-negara yang lebih maju. Bagaimana sistem manajemen negaranya di segala aspek: ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan, kebudayaan, infrastruktur dan lain-lain. Kami akan menyeleksi mana sistem yang cocok dan tepat sasaran untuk diterapkan di negara ini. Dan saya akan menantang segenap anggota tim untuk berpikir kreatif bagaimana bisa menyelesaikan segala masalah yang ada, memperbaiki segala yang kurang dan meningkatkan lagi yang sudah baik. Intinya, terus belajar dan bekerja. Karena waktu yang kami miliki sangat singkat, meskipun jika saya terpilih untuk menjabat dalam dua periode. Setiap menit sangatlah berharga, karena setiap kali saya merefleksikan masa lalu, saya tidak pernah berhenti terkejut begitu cepatnya waktu berlalu.


Saya akan belajar tentang ekonomi ke China, negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi yang kemajuannya di bidang ini membuat seluruh dunia terkesima. Saya akan belajar ke Perancis tentang sistem dan pelayanan kesehatan yang merupakan yang terbaik di dunia menurut laporan dari WHO. Saya akan belajar tentang bagaimana mewujudkan perdamaian di dalam negara dari Islandia, yang mendapat peringkat satu sebagai negara paling damai dari Institute of Economics and Peace. Kunjungan ke Islandia ini ternyata juga membuka mata saya untuk belajar tentang hal lain, yakni pemanfaatan panas bumi untuk menghasilkan energi yang hemat dan bersih. China pun mengantri untuk belajar tentang hal ini dari Islandia, yang merupakan pakar dalam bidang ini. Saya akan terbang jauh ke Finlandia untuk belajar bagaimana mereka menciptakan sistem pendidikan terbaik di dunia. Sungguh menyedihkan, ketika seorang staff ahli memberitahu saya bahwa sistem pendidikan kita merupakan salah satu yang paling buruk di dunia.


Saya akan belajar tentang teknologi ke Jepang, yang kemajuan teknologinya disebut sebagai nomor satu di dunia oleh Reputation Institute. Bagaimana Jepang yang luluh lantak di Perang Dunia II berhasil bangkit kembali dengan bantuan teknologi untuk menjadi salah satu negara paling maju di dunia saat ini. Jepang lahir kembali pada saat yang hampir bersamaan dengan Indonesia merdeka. Mereka juga punya jumlah penduduk yang banyak dengan sumber daya alam terbatas. Apakah alasan kita untuk tidak mengikuti jejak mereka? Sudah terlalu banyak pendahulu yang mencari-cari alasan, tapi saya dan tim akan fokus pada riset teknologi bukan riset alasan. Saya akan belajar tentang pengembangan infrastruktur ke Swiss atau Singapura, yang menuruti Business Insider merupakan yang terdepan di bidang ini. Hal ini memang bisa saya rasakan sendiri ketika memanfaatkan fasilitas transportasi umum di Singapura. Kereta api, bis terpelihara dan beroperasi dengan baik. Fasilitas jalan, jembatan, saluran pembuangan air pun demikian. Hal-hal yang mungkin bagi penduduk lokal sudah terasa sangat wajar dan biasa, adalah bagaikan barang mewah bagi kita. Sudah waktunya hal-hal seperti ini menjadi kenyataan dan bukan sekedar impian.


Di atas segala-galanya, yang akan menjadi batu landasan bangsa ini adalah manusianya. Karena itu saya akan membuat sebuah pusat pengembangan diri di seluruh penjuru tanah air, yang dimulai dari setiap ibukota provinsi terlebih dahulu. Pusat pengembangan diri ini akan membekali warga dengan ilmu yang bisa mereka terapkan di kehidupan mereka masing-masing supaya lingkungan di sekitar mereka bisa menjadi lebih baik. Di tempat ini mereka bisa belajar tentang etika dan moral, filsafat, bimbingan keagamaan, kesehatan, kewiraswastaan, ketrampilan khusus dan sebagainya dibawah bimbingan mentor-mentor yang merupakan pakar di bidangnya masing-masing. Kedepannya program ini akan dikembangkan sampai ke pelosok supaya dapat memberikan manfaat bagi mereka yang tinggal di pedalaman. Harapannya tentu saja kemajuan pembangunan negara kita dapat dirasakan oleh semua warga. Dan yang paling penting tentu saja, adalah kepedulian dan partisipasi dari Anda sekalian. Saya dan tim hanyalah segelintir kecil orang yang berusaha memberikan pemicu perubahan ke arah yang lebih baik. Segala jenis upaya yang kami lakukan tidak akan berhasil jika Anda sekalian tidak berpartisipasi dan ikut bekerja bersama kami. Ingat dan sadarilah bahwa Indonesia adalah 200 juta lebih manusia, bukan beberapa ratus atau ribu orang yang disebut “pemerintah”. Negara kita terlalu besar untuk diurus hanya oleh sebagian manusia yang terbatas kemampuannya di segala aspek. Karena saya telah diberi kepercayaan oleh sebagian besar dari Anda untuk memimpin negara kita bersama ini, saya juga ingin percaya bahwa Anda peduli dan mau ikut bersama saya memajukan bangsa ini. Kemajuan yang nantinya akan kita nikmati bersama juga. Saya ingin menjadikan “Bersama Kita Bisa” lebih dari sekedar slogan, tapi fakta. Marilah kita mulai, SEKARANG!


Tertanda, Presiden.

Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments