Thoughts of T

I think, therefor I write.

T's Notes

Pontianak City : 2050 (Sebuah Visi)

Posted by Sutanto Wijaya on March 5, 2014 at 5:50 AM

"This city is what it is because our citizens are what they are" - Plato


Pontianak City, Maret 2050. Populasi 1,8 juta.


Aku terbangun di keheningan malam...di tengah suhu kamar terasa begitu panas. Usahaku membuka mata yang berat untuk melirik ke jam dinding...disambut kegelapan...mati lampu lagi. Tapi kali ini tidak ada lagi sumpah serapah di hatiku...setelah sekian lama...aku sudah belajar untuk terima keadaan. Setiap manusia memang dikaruniai kemampuan beradaptasi yang membantunya untuk survive...karena kalau tidak...dia tidak akan mampu bertahan hidup...secara fisik maupun mental. Kucoba lepaskan semua gangguan di pikiranku dan berusaha untuk tidur kembali. Usaha yang tidak mudah...tapi akhirnya berhasil. Mungkin karena pikiran dan badan yang sudah terlalu lelah setelah bolak-balik di tempat tidur entah berapa kali...


Suara alarmku memecah kesunyian...sinyal untuk bangun...padahal waktu tertidur kembali terasa seperti lima menit yang lalu. Dengan sangat memaksakan diri...perlahan-lahan aku bangkit dari tempat tidur...bersyukur atas nafas kehidupan yang masih dikandung badan. Kusempatkan mengintip ke luar jendela, bukan sinar matahari pagi yang kulihat…tapi kabut asap yang cukup pekat…kualitas ekspor. Kusambar handukku dan bergegas untuk gosok gigi dan mandi. “Air garam” menyambut lidahku ketika gosok gigi…sensasi yang tidak mengejutkan di setiap musim kemarau. Menurutku yang dibutuhkan hanya teknologi untuk memfilter dan memproses kandungan garam ini…niscaya akan tercipta home industry baru. Sisi positif lain, penghematan air pasti terjadi…karena seharusnya tidak akan ada yang berlama-lama gosok gigi dan mandi dengan kondisi air seperti ini. 


Sorenya, ketika sedang berkendaraan di salah satu jalan protokol, aku melihat seorang pengendara motor tergeletak di tengah jalan tak sadarkan diri. Beberapa orang di dekat situ berusaha menolongnya. Awalnya kupikir kecelakaan lalu lintas, tapi ternyata korban terkena tali layangan yang nyasar ke jalan. Bagaimana tali layangan bisa sampai memakan korban di jalan raya membuatku bertanya-tanya dalam hati. Kalau di jalan kecil, kejadian serupa bukanlah hal baru. Yang tidak kalah misterius bagiku adalah pesona layang-layang yang exist hingga hari ini. Meski bukan penggemar berat, harus kuakui mainan tradisional yang sebenarnya sudah sangat ketinggalan jaman ini cukup menarik. Permainan ini menjadi madu sekaligus racun karena tiadanya sistem yang mengatur area bermainnya. Kalau di luar negeri permainan ini menjadi festival yang membawa canda tawa, di kota ini berpotensi membawa ratap duka.


Pemandangan berikutnya yang kujumpai di jalan adalah lautan motor dan mobil di tengah kemacetan. Ironisnya hal ini menjadi salah satu indikasi kemajuan kota ini. Mall, apartemen, hotel-hotel berstandar internasional yang menjulang, deretan pertokoan dan ruko-ruko dengan design futuristis telah menghiasi wajah Bumi Khatulistiwa. Sebuah kemajuan yang sangat patut disyukuri. Tapi tiba-tiba aku teringat dengan pengalaman kontras yang kurasakan tadi malam dan pagi ini, masalah yang telah dikeluhkan kakekku sejak puluhan tahun yang lalu. Dan kalau melihat trend yang ada, sepertinya akan dilestarikan ke generasi-generasi berikutnya.


Ketika akhirnya sampai kembali ke rumahku yang terletak di kawasan pertokoan di tengah kota...mimpi buruk yang lain menamparku di muka. Aku tidak dapat memarkir mobilku di rumah sendiri...karena tempat parkir di depan rumahku diisi mobil lain. Terkadang aku harus menjadi orang bodoh yang mencari dan bertanya kesana kemari siapa pemilik mobil tersebut. Tapi kebodohan pun ada batasnya. Aku terpaksa memarkir mobilku di tempat lain, kalau beruntung...di lokasi yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Tapi tidak selesai di situ, aku pernah harus menunggu sampai larut malam untuk sekedar “mencari peluang” bisa memarkir mobilku di depan rumah sendiri! Tinggal di lokasi strategis menjadi buah simalakama bagiku, antara berkat atau kutukan. Petugas parkir? Kurasa tak perlu kujelaskan. Aku berusaha untuk berempati dengan usaha mereka mencari nafkah...tapi jelas sekali cintaku bertepuk sebelah tangan...


Pontianak di tahun 2050, berwajah gemerlapan yang superficial…dangkal. Karena jauh di dalam...digerogoti permasalahan yang sepertinya abadi...hingga hari ini...

 


- SW -

 

Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments